Perspektif Indahnya Dalam Kebersamaan

Penulis : SKPD Kota Sukabumi
 10 - 11 - 2015


 

Ditulis Oleh : DEDI SUNARDI

Kasi Dokumentasi dan Informasi

DINAS KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL

KOTA SUKABUMI

Kodrat seorang manusia diciptakan Allah SWT adalah sebagai makhluk sosial yang secara biologis selalu saling membutuhkan satu sama lain, Pemimpin membutuhkan anak buah, ulama/ ustazd membutuhkan santri atau jama’ahnya, yang kaya membutuhkan yang miskin, rumah tangga membutuhkan pembantu dan tetangga, individu membutuhkan teman bergaulnya, yang mati membutuhkan yang hidup, dan lain sebagainya. Dalam makna kebersamaan ini pula Allah SWT berfirman pada QS. Az-Zukhruf: 32; Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabbmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Rabbmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”, demikian pula Rosulullah SAW menggandeng dalam sebuah haditsnya dalam makna kebersamaan “…Wajib atas kalian untuk bersama dengan al-jamaah dan berhati-hatilah kalian dari perpecahan. Sesungguhnya setan bersama orang yang sendirian, sedangkan dari orang yang berdua dia lebih jauh. Barangsiapa yang menginginkan tengah-tengahnya (yang terbaiknya) surga maka hendaklah dia bersama jamaah. Barangsiapa yang kebaikan-kebaikannya menggembirakan dia dan kejelekan-kejelekannya menyusahkan dia, maka dia adalah seorang mukmin.” (Shahih, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi ).

Indahnya kebersamaan dalam kehidupan, baik dalam komunitas agama, komunitas organisasi, komunitas kemasyarakatan, maupun dalam kehidupan bertetangga, jika dihidupkan dalam sebuah nafas kebersamaan maka kebersamaan itu akan menjadi indah, namun sebaliknya jika kebersamaan tersebut terkena virus individualis, dan  liberalis, sehingga kebersamaan tidak terbentuk, maka keributan, perkelahian, dan tidak saling percaya mempercayai, lambat laun titik kehancuran akan menjadi malapetaka. Demikian pula Allah SWT berfirman: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (Ali ‘Imran: 103).

Demikian pula dalam perspektif organisasi pemerintahan, kebersamaan eksekutif, legislatif, yudikatif, dan masyarakat sangat menentukan untuk keberhasilan program-program yang diunggulkan, baik pembangunan struktur, maupun pembangunan infrastruktur.

Namun yang terjadi kebersamaan terasa mulai menurun sejak terjadinya degradasi rasa, jiwa dan semangat kebersamaan. Pemerintahan kita sejak reformasi bergulir pada penghujung tahun 1998, Indikasi dari degradasi tersebut terlihat semakin menipisnya kesadaran kebersamaan hampir pada semua generasi bangsa. Oleh karena itulah kita perlu mengangkat kembali nilai-nilai kebersamaan jati diri kebangsaan Indonesia menuju bangsa Indonesia yang berjiwa gotong royong, tertib, damai, serta menuju pemerintahan yang baldatun thoibatun warobbun gofur.